BINGKAI TARIF MURAH TELEKOMUNIKASI
Oleh: Muhammad Akhid Syib’li*)
Indonesia adalah Negara kepulauan terbesar di dunia, yang terdiri dari 17.508 pulau, sekitar 6000 di antaranya tidak berpenghuni, yang menyebar di sekitar khatulistiwa , dengan begitu Indonesia memiliki iklim yang tropis. Bila ditinjau berdasarkan koordinatnya Indonesia terletak pada 6°LU - 11°08'LS dan dari 95°'BB - 141°45'BT serta terletak di antara dua benua benua yaitu benua Asia dan benua Australia/Oseania. Wilayah negeri jamrud khatulistiwa ini terbentang sepanjang 3.977 mil di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik dengan luas daratan Indonesia adalah 1.922.570 km² dan luas perairannya 3.257.483 km².
Kemudian, populasi masyarakat di Indonesia pada tahun 2006 sebesar 222 juta jiwa. 130 juta (lebih dari 50%) tinggal di Pulau Jawa yang merupakan pulau berpenduduk terbanyak sekaligus pulau dimana ibukota Jakarta berada. Sebagian besar (95%) penduduk Indonesia adalah bangsa Melayu, tetapi terdapat pula kelompok-kelompok suku Melanesia, Polinesia, dan Mikronesia terutama di Indonesia bagian Timur. Banyak penduduk Indonesia yang menyatakan dirinya sebagai bagian dari kelompok suku yang lebih spesifik, yang dibagi menurut bahasa dan asal daerah, misalnya Jawa, Sunda ataupun Batak.
Terbentang sangat luasnya Ibu Pertiwi dengan perbedaan-perbedaan bentukan geografisnya dari Sabang sampai Merauke inilah yang melahirkan berbagai suku, bahasa dan agama yang berbeda. Perbedaan geografis setiap daerah di negeri ini yang menimbulkan bentuk kebudayaan yang beragam. Budaya-budaya ini yang memunculkan ciri khas dari setiap daerah, menciptakan karakter-karakter yang bervariasi di dalam individu masyarakatnya. Indonesia memiliki sekitar 300 kelompok etnis, tiap etnis memiliki budaya yang berkembang selama berabad-abad, dipengaruhi oleh kebudayaan India, Arab, Cina, dan Eropa, termasuk kebudayaan sendiri yaitu Melayu. Karena itu, semboyan nasional Indonesia, "Bhinneka tunggal ika" ("Berbeda-beda tetapi tetap satu"), berarti keberagamanlah yang membentuk negara..
Dikatakan harus tunggal ika karena variasi yang ada menciptakan potensi yang besar. Berpotensi sebagai kekuatan yang besar dan kokoh karena sebuah integritas, serta kelemahan dan kerapuhan karena sebuah disintegritas. Kuncinya adalah komunikasi untuk kerukunan antar suku, agama, maupun daerah. Perbedaan geografis juga menjadi kendala tersendiri dalam melakukan komunikasi karena harus menempuh medan yang berat dan melelahkan sehingga sebuah informasi dapat datang selama berhari-hari.
Berdasarkan sejarah manusia, berkomunikasi bertujuan untuk membagi pengetahuan dan pengalaman. Bentuk umumnya berupa bahasa sinyal, bicara, tulisan, gerakan, dan penyiaran. Komunikasi dapat berupa interaktif, transaktif, bertujuan, atau tak bertujuan. Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut. Awal mulanya manusia, menggunakan sinyal-sinyal khusus sebagai tanda, seperti suara dan cahaya yang diberi pola, ataupun melalui surat, sehingga informasi yang diberikan membutuhkan waktu yang relatif lama untuk sampai pada pihak yang dituju. Dan karena ini pula kesalahpahaman dapat terjadi, kerukunan dapat pecah dan disintegrasi terjadi.
Kemudian perkembangan teknologi memberikan jawaban untuk mempermudah komunikasi manusia sampai pada belahan bumi manapun. Seperti melalui surat kabar yang dicetak secara luas, melalui peralatan elektronik seperti radio, televisi, telepon, internet dan mobilephone. Awal mulanya pun tarif yang digunakan cukup mahal dan hanya sebagian orang saja yang bisa menikmati fasilitas ini, dapat dikatakan spesial untuk orang-orang yang memiliki duit. Tapi di era tahun 2000-an asumsi ini telah berubah, sebagian besar masyarakat mampu mengakses fasilitas ini karena tarif telekomunikasinya yang murah, terutama tarif pulsa mobilephone. Selain murah fasilitas ini tergolong sangat praktis karena dapat dibawa kemana-mana dalam saku yang kecil. Masyarakat mendapatkan kebebasan dalam mengelola pulsa yang dibutuhkan berdasarkan budget masing-masing. Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Muhammad Nuh menyatakan bahwa tarif telekomunikasi untuk semua jenis layanan telepon akan turun antara 10 hingga 30 persen. Kutipan dari pernyataan Menkominfo dalam ANTARA News (09/01/08) adalah berikut ini:
“Saya belum bisa secara pasti mengatakan (tentang turunnya tarif telekomunikasi), tapi berkisar antara 10-30 persen. kata Menkominfo usai pertemuan dengan jajaran Dirjen Postel dan BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia) bersama komunitas telekomunikasi termasuk operator di kantor Indosat, Jakarta, Rabu. Nuh mengatakan tarif telekomunikasi dimungkinkan turun setelah pihak Dirjen Postel melakukan kajian terhadap tarif telekomunikasi dan biaya interkoneksi berdasarkan masukan dari para operator telekomunikasi. Nuh mengatakan Peraturan Menkominfo mengenai penetapan tarif interkoneksi tersebut diterbitkan paling lambat akhir Januari. "Saat ini (rancangan peraturan tarif telekomunikasi) tinggal finalisasi dan konfirmasi," kata dia. Menkominfo mengatakan pemerintah menginginkan tarif telekomunikasi bisa murah dan terjangkau oleh masyarakat tetapi juga tidak ingin operator telekomunikasi sampai merugi.
Dengan merujuk pada definisi komunikasi yang berarti suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain sehingga terjadi saling mempengaruhi diantara keduanya. Komunikasi dapat dilakukan dengan menggunakan kata-kata (lisan) yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Mobilephone yang saat ini memiliki tarif yang terjangkau menjadi sarana untuk saling memberikan pengaruh dan saling memberikan pengertian satu sama lain. Pertukaran informasi adat, budaya, dan segala sesutu yang baru dapat terungkap melalui percakapan diantara kedua individu yang berkomunikasi. Dengan adanya saling mengerti dan memahami kerukunan di setiap masyarakat dengan perbedaan-perbedaan kultur dapat selalu terjadi.
Adanya tarif murah telekomunikasi seharusnya juga semakin menggiatkan pemerintah, perusahaan, maupun masyarakat untuk lebih meningkatkan rasa integritas demi keutuhan Ibu Pertiwi Indonesia. Pemerintah dapat menjadi fasilitator agar semua pihak di berbagai wilayah di Indonesia dapat menjalin komunikasi satu sama lain tanpa terhalang perbedaan geografis yang mencolok. Pembangunan menara-menara telekomunikasi menjadi salah satu solusinya, komunikasi ini mengaburkan perbedaan dan memperlihatkan persamaan. Perbedaan dianggap sebagai sesuatu yang lumrah dan mesti ada. Persaudaraan karena sebangsa dan setanah airlah yang dikedepankan, sehingga integritas Ibu Pertiwi yang diharapkan dapat terwujud, Indonesia semakin kokoh dan intervensi-intervensi luar secara natural akan terdegradasi dan hilang. Dengan begitu harapan setiap insan di Indonesia mengenai intgritas melalui bingkai tarif murah telekomunikasi dapat tercipta dan selalu ada.



